Koan Zen

Koan ( dibacakan ko’an) adalah cerita, dialog, pertanyaan atau pernyataan dalam sejarah dan tradisi buddhisme Zen. Koan umumnya mengandung aspek-aspek yang tidak terjangkau oleh pemahaman rasional, namun bisa terjangkau oleh intuisi. Sebuah koan yang terkenal adalah “Dua tangan bertepuk, terdengarlah suatu bunyi; apakah bunyi tepukan satu tangan?”.

Koan berasal dari ungkapan dan karya para bijak dan tokoh- tokoh legendars, biasanya meraka yang berwenang mengajar dalam silsilah yang mengakui bodhidharma ( abad ke-5  sampai ke-6) sebagai sesepuh mereka. Konon koan mencerminkan keadaan tercerahkan tokoh-tokoh tersebut.

Kata koan berkenaan dengan aksara cina yang dapat diturunkan dalam berbagai cara : kung-an (cina), gong’an (korea), cong-an (vietnam), dan Zen (barat). Semuanya ada kemiripan, demikian pula koan memainkan peranan senada dalam setiap tradisi sekalipun ada perbedaan budaya.

Ini adalah kumpulan 101 koan Zen dari abad ke-19 sampai awal abad ke-20 dan yang ditulis pada abad ke-13 oleh Muju, guru Zen dari jepang. Ini di transkripkan oleh Paul Reps dan Nyogen Senzaki.

Zen dapat dilebur dalam kehidupan siapa saja, telepas dari agama yang dianutnya. Koan-koan ini akan mengubah cara pandang kita terhadap dunia dan akan menyampaikan sesuatu kepad mereka yang mau menyimaknya.

Secangkir teh

Nan-In, seorang guru di Jepang yang hidup pad era Meiji (1868-1912), suatu hari menerima kunjungan seorang profesor perguruan tinggi yang ingin bertanya tentang Zen.

Nan-In menyuguhkan teh. Ia menuangkan teh ke cangkir tamunya hingga penuh, dan terus menuangkannya.

Sang profesor melihat teh tersebut telah meluap dan tidak tahan lagi untuk berkata,” Itu sudah luber. Jangan dituang lagi!”.

“Sama seperti cangkir ini,” sahut Nan-In.’benak Anda sudah dipenuhi pendpat dan pengertian Anda sendiri. Bagaimana mungkin sayamenjelaskan Zen kalau Anda tidak mengosongkan ‘cangkir’ Anda terlebih dahulu?”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.